Thursday, February 2, 2017

Pengajian Kitab Risalatul Mu’awanah KH. Abdur Rahman Yahya, Selasa, 8-12-2015

Menjauhi Najis dan Jinabah
                Tetapkanlah dirimu dalam menjaga diri dari segala macam najis.Apabila ada najis yang mengenai dirimu dan najis tersebut dalam keadaan basah, maka bersegeralah kamu untuk membasuhnya. Apabila kamu terkena jinabah(hadast besar) maka bersegeralah kamu untuk mandi besar disaat itu juga. Karena sesungguhnya orang yang berada dalam keadaan hadast besar,ditolak di sisi Allah SWT. Dan karena ditolaknya ia dari sisi Allah, maka diharamkan baginya untuk berdiam diri di dalam masjid, dan haram baginya untuk membaca Al-Qur’an.
                Pasal selanjutnya menceritakan bahwa sesungguhnya Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat orang yang sedang junub atau mempunyai hadast besar. Dan ketika malaikat pergi maka datanglah para setan dari segala arah. Dan takutlah kamu untuk makan dan minum, sedangkan kamu sedang dalam keadaan junub. Karena makan dan minum dalam kondisi junub akan mendatangkan banyak bahaya. Apabila kamu tidak bisa langsung mandi ketika junub, maka usahakan untuk membersihkan alat kelamin dan mengambil wudlu.
Memperbaharui dan Melanggengkan Wudlu.
                Tetapkanlah dirimu untuk memperbarui wudlu setiap hendak melaksanakan ibadah fardlu. Dan bersungguh-sungguhlah dalam mengusahakan agar dirimu tetap dalam keadaan suci. Dan bersegeralah memperbarui wudlu ketika kamu dalam keadaan mempunyai hadast. Sesungguhnya wudlu adalah pedangnya orang-orang beriman. Dan ketika orang beriman memegang pedang, maka musuhnya tidak akan berani mendekat.
                Dalam sebuah cerita, ada seorang laki-laki yang mendatangi Syeikh Abi Hasan Asy-Syadzili ra. Laki-laki tersebut meminta kepada Syeikh Abi Hasan untuk mengajarinya ilmu Kimya’. Maka, Syeikh Abi Hasan menyuruh laki-laki tersebut untuk tetap berada di dekatnya selama 1 tahun. Laki-laki tersebut diharuskan untuk segera berwudlu ketika batal wudlu nya dan sholat 2 rokaat. Syeikh Abi Hasan berjanji akan mengajarinya setelah satu tahun. Setelah satu tahun berselang, laki-laki tersebut pergi ke sumur untuk mengambil air. Tapi yang ia dapatkan di dalam ember yang ia gunakan untuk mengambil air adalah emas dan perak. Maka ia menumpahkan kembali emas dan perak tersebut kedalam sumur. Lalu ia mendatangi Syeikh Abi Hasan dan menceritakan kejadian yang menimpanya tadi. Maka Syeikh Abi Hasan menjawab bahwa laki-laki itu telah berhasil mendapatkan ilmu kimya’. Dan akhirnya Syeikh Abi Hasan menjadikannya sabagai Da’i ilaLlah.

                Kyai Abdur Rahman menjelaskan, seandainya lelaki tersebut mengambil emas yang isa dapatkan dari sumur tersebut, maka ia hanya akan mendapatkan duniawi. Tapi karena sifat kezuhudannya maka ia berhasil mendapatkan tujuannya yaitu ilmu kimya’.

No comments:

Post a Comment