Monday, February 6, 2017

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Miftahul Huda

Pondok Pesantren Miftahul Huda(PPMH) Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. PPMH lebih terkenal dengan nama Pondok Gading karena bertempat di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh PPMH selama hamper 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu : KH. Isma’il,KH. Muhyini, KH. Ma’sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

KH. Muhammad Yahya
Setelah KH. Hasan Munadi wafat, Pondok Gading diasuh oleh putera pertama beliau, KH. Ismail. Dalam menjalankan tugasnya,KH. Ismail dibantu oleh keponakannya sendiri yaitu KH. Abdul Majid. Karena tidak mempunyai keturunan, maka KH. Ismail mengamil salah seorang puteri KH. Abdul Majid  yang bernama Nyai Siti Khodijah sebagai anak angkat. Puteri angkat ini kemudian beliau nikahkan dengan salah seorang alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda(Pondok Jampes), Kediri Yaitu KH. Moh. Yahya yang berasal dari Jetis, Malang.
Kepada KH. Moh. Yahya inilah KH. Isma’il menyerahkan pembinaan dan pengembangan Pondok Gading. KH. Ismail kemudian wafat pada usia 75 tahun setelah mengasuh Pondok Gading selama 50 tahun. Sebagai pengasuh generasi ketiga, KH. Moh. Yahya memberi nama pondok pesantren gading dengan nama “Pondok Pesantren Miftahul Huda”. Beliau mengizinkan para santrinya untuk menuntut ilmu di lembaga formal di luar pesantren. Sebuah kebijakan yang cukup berani dan tergolong langka saat itu.Ternyata dengan kebijakan ini, Pondok Gading berkembang semakin pesat.
Selama mengasuh Pondok Gading ini, Beliau selalu mewanti-wanti para santrinya agar tidak keliru dalam niatnya. Pesan beliau yang sampai kini diteruskan oleh putra-putra beliau dalam membina para santri adalah “Niatmu ojo keliru. Nomer siji niat ngaji, nomer loro niat sekolah. Insya Allah bakal hasil karo-karone”.(Niatmu jangan sampai keliru. Yang pertama adalah niat mengaji dan niat yang kedua adalah niat sekolah/kuliah, Insya Allah akan berhasil kedua-duanya).
Pada tanggal 4 Syawal 1391 H atau 23 November 1971 M, KH. Moh. Yahya pulang ke Rahmatullah,tepat 37 hari setelah meninggalnya putra pertama beliau yang bernama Kyai Ahmad Dimyathi Ayatullah Yahya. Sepeninggal Kyai Yahya, PPMH di asuh oleh putera-putera beliau secara kolektif(bersama-sama). Putera-putera beliau itu adalah KH. AbdurRohim Amrullah Yahya, KH. AbdurRahman Yahya dan KH. Ahmad Arief Yahya. Disamping itu juga dibantu oleh para menantu beliau yaitu KH. Muhammad Baidlowi Muslich dan Ust. Drs. HM. Shohibul Kahfi, M.Pd.

Thursday, February 2, 2017

Pengajian Kitab Risalatul Mu’awanah KH. Abdur Rahman Yahya, Selasa, 8-12-2015

Menjauhi Najis dan Jinabah
                Tetapkanlah dirimu dalam menjaga diri dari segala macam najis.Apabila ada najis yang mengenai dirimu dan najis tersebut dalam keadaan basah, maka bersegeralah kamu untuk membasuhnya. Apabila kamu terkena jinabah(hadast besar) maka bersegeralah kamu untuk mandi besar disaat itu juga. Karena sesungguhnya orang yang berada dalam keadaan hadast besar,ditolak di sisi Allah SWT. Dan karena ditolaknya ia dari sisi Allah, maka diharamkan baginya untuk berdiam diri di dalam masjid, dan haram baginya untuk membaca Al-Qur’an.
                Pasal selanjutnya menceritakan bahwa sesungguhnya Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat orang yang sedang junub atau mempunyai hadast besar. Dan ketika malaikat pergi maka datanglah para setan dari segala arah. Dan takutlah kamu untuk makan dan minum, sedangkan kamu sedang dalam keadaan junub. Karena makan dan minum dalam kondisi junub akan mendatangkan banyak bahaya. Apabila kamu tidak bisa langsung mandi ketika junub, maka usahakan untuk membersihkan alat kelamin dan mengambil wudlu.
Memperbaharui dan Melanggengkan Wudlu.
                Tetapkanlah dirimu untuk memperbarui wudlu setiap hendak melaksanakan ibadah fardlu. Dan bersungguh-sungguhlah dalam mengusahakan agar dirimu tetap dalam keadaan suci. Dan bersegeralah memperbarui wudlu ketika kamu dalam keadaan mempunyai hadast. Sesungguhnya wudlu adalah pedangnya orang-orang beriman. Dan ketika orang beriman memegang pedang, maka musuhnya tidak akan berani mendekat.
                Dalam sebuah cerita, ada seorang laki-laki yang mendatangi Syeikh Abi Hasan Asy-Syadzili ra. Laki-laki tersebut meminta kepada Syeikh Abi Hasan untuk mengajarinya ilmu Kimya’. Maka, Syeikh Abi Hasan menyuruh laki-laki tersebut untuk tetap berada di dekatnya selama 1 tahun. Laki-laki tersebut diharuskan untuk segera berwudlu ketika batal wudlu nya dan sholat 2 rokaat. Syeikh Abi Hasan berjanji akan mengajarinya setelah satu tahun. Setelah satu tahun berselang, laki-laki tersebut pergi ke sumur untuk mengambil air. Tapi yang ia dapatkan di dalam ember yang ia gunakan untuk mengambil air adalah emas dan perak. Maka ia menumpahkan kembali emas dan perak tersebut kedalam sumur. Lalu ia mendatangi Syeikh Abi Hasan dan menceritakan kejadian yang menimpanya tadi. Maka Syeikh Abi Hasan menjawab bahwa laki-laki itu telah berhasil mendapatkan ilmu kimya’. Dan akhirnya Syeikh Abi Hasan menjadikannya sabagai Da’i ilaLlah.

                Kyai Abdur Rahman menjelaskan, seandainya lelaki tersebut mengambil emas yang isa dapatkan dari sumur tersebut, maka ia hanya akan mendapatkan duniawi. Tapi karena sifat kezuhudannya maka ia berhasil mendapatkan tujuannya yaitu ilmu kimya’.